| |
Sebagai bangsa, kita telah ternoda, terjerumus dan terpuruk pada posisi yang rendah di mata dunia. Catatan buruk tentang korupsi telah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang terkorup. Ketidakjujuran menyebabkan bangsa kita diragukan oleh lembaga-lembagai dunia sehingga menyebabkan penderitaan rakyat dan melengkapi citra buruk bangsa ini. Akankah semua ini berlarut-larut? Sanggupkah kita tahan lebih lama lagi? Inginkah kita mengubah keadaan ini dan membuatnya segera berlalu?
Ada keyakinan bahwa sebagian, bahkan seluruhnya ingin mengakhiri hal tersebut. Tetapi apakah memang demikian? Lalu bagaimana caranya? Kita harus memulai dari mana dan kapan?
Rentetan perbuatan-perbuatan buruk, tercela dan nista adalah sisi lain dan kebalikan dari perbuatan baik. Perbuatan pada keyakinan bahwa yang mesti kita lakukan adalah perbuatan baik dan terpuji yang bersumber dari keyakinan kita akan kebenaran dan hakekat hidup pada jalan yang lurus dengan acuan utama adalah Tuhan Yang Maha Esa serta nilai-nilai luhur bangsa yang juga mengalir dalam ajaran agama meliputi ketakwaan, keimanan dan akhlak mulia.
Kalau hanya di-angan-angankan atau dibayangkan maka bisa jadi harapan kita tidak akan terwujud nyata. Kita harus memiliki niat, komitmen atau ikrar untuk menjadi bangsa yang ber-citra baik dan besar. Dari ‘niat’ kita bisa melakukan pilihan untuk membuat tindakan-tindakan nyata.
Kapan tindakan nyata harus dimulai? Tepatlah pendapat yang mengatakan bahwa perbuatan baik itu meliputi tiga dimensi, yakni dimensi waktu, dimensi subjek dan dimensi sasaran. Dimensi waktu artinya sebaiknya saat dimulai tidak ditunda-tunda tetapi pada saat itu juga atau sekarang juga; dimensi subjek artinya siapa yang sadar, mulailah dari dirinya sendiri; dan dimensi sasaran artinya mulai dari yang sederhana, sekecil mungkin, sesedikit mungkin. Artinya tidak usah menunggu menjadi banyak atau besar dengan komunitas yang luarbiasa. Singkatnya, “dapat kita mulai saat ini, dari diri kita sendiri dalam bentuk yang sederhana mungkin”.
Dalam konteks memperbaiki keadaan yang sudah buruk sekarang ini, maka akhlak mulia merupakan bagian dari keadaan yang dapat diperbaiki. Hal ini merupakan ekspresi ataupun manifestasi dari suasana batin manusia, mengandung perwujudan dari alur kesadaran, pengertian, kognitif, afektif dan bermuara pada psikomotorik. Akhlak mulia dapat dibangun secara individu ataupun kelompok yang berbasis orang-perorang, masyarakat, lembaga-lembaga resmi kenegaraan melalui jalur pendidikan formal, informal maupun non-formal.
Menapaki jalan-jalan dalam kehidupan ini, melewati tingkatan usia yang dikaruniai Sang Khalik, dimana umur manusia itu tidak dapat diketahui sampai berapa panjang, marilah kita penuhi dengan perbuatan yang membentuk jatidiri dan citra yang positif bukannya negatif serta mengisinya dengan perilaku yang terhormat karena inilah hakekat hidup yang sesungguhnya. Membentuk citra diri menjadi bangsa yang besar adalah dimulai dari satuan terkecil yakni diri kita sendiri, berawal dari hati kita dan pilihan yang kita buat. Raja Sulaiman (Salomo) dalam kitab Amsal 4:23 mengatakan: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”.
Menghadapi pesta demokrasi yang sudah di depan mata, yakni momentum memilih representasi atau keterwakilan kita ke tingkat legislatif tingkat daerah hingga ke nasional, sudahkan kita menentukan pilihan yang tepat dengan cara yang tepat pula, sesuai dengan hati nurani kita yang berniat untuk membalikkan keterpurukan bangsa ini? Ataukah kita harus menyerah pada realita ke-kini-an yang penuh manipulasi dan ketidakjujuran dan membiarkan bangsa ini menderita ? pilihan ada pada diri saudara !
|