Citra Manusia

Sebagai bangsa, kita telah ternoda, terjerumus dan terpuruk pada posisi yang rendah di mata dunia. Catatan buruk tentang korupsi telah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang terkorup. Ketidak jujuran menyebabkan bangsa kita diragukan oleh lembaga-lembaga dunia, sehingga menyebabkan penderitaan rakyat — dan melengkapi citra buruk bangsa ini. Akankah semua ini berlarut-larut? Sanggupkah kita tahan lebih lama lagi? Inginkah kita mengubah keadaan ini dan membuatnya segera berlalu?

Harapan untuk menjadi lebih baik selalu ada tapi bagaimana caranya ?

Di era Teknologi Informasi Komunikasi dan Intelegensi ini tentunya kita menyadari bahwa dunia sudah tidak dapat dibatasi lagi dengan ruang dan waktu. Dengan adanya teknologi ini maka kita dapat memulai susuatu dari mana saja kita berada melalui alat-alat komunikasi yang kita miliki (iPad, Tab, HP, BB, Laptop dll). Melalui alat-alat ini kita dapat mempengaruhi diri sindiri, keluarga, masyarakat dan bahkan bangsa kita melalui media komunikasi yang kita miliki, baik untuk masyarakat dunia nyata maupun masyarakat dunia maya (cyber community). Konten-konten yang positif dan membangun dapat kita gunakan sebagai media pembelajaran bagi anak bangsa sebagai pemelajar.

Dalam konteks memperbaiki keadaan yang sudah buruk sekarang ini, maka akhlak mulia merupakan bagian dari keadaan yang dapat diperbaiki. Hal ini merupakan ekspresi, ataupun manifestasi, dari suasana batin manusia, mengandung perwujudan dari alur kesadaran, pengertian, kognitif dan afektif, dan bermuara pada psikomotorik.

Akhlak mulia dapat dibangun secara individu ataupun kelompok yang berbasis orang-perorangan, masyarakat, lembaga-lembaga resmi kenegaraan, komunitas; melalui jalur pendidikan formal, informal maupun non-formal.

Menapaki jalan-jalan dalam kehidupan ini, melewati tingkatan usia yang dikaruniai Sang Khalik, umur manusia itu tidak dapat diketahui sampai berapa panjang. Marilah kita penuhi dengan perbuatan yang membentuk jati diri dan citra yang positif, bukannya negatif, serta mengisinya dengan perilaku yang terhormat, karena inilah hakekat hidup yang sesungguhnya.

Membentuk citra diri menjadi bangsa yang besar adalah dimulai dari satuan terkecil, yakni diri kita sendiri; berawal dari hati kita dan pilihan yang kita buat. Raja Sulaiman (Salomo) dalam kitab Amsal 4:23 mengatakan: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”.

Jika kita menghadapi pesta demokrasi, apakah kita menentukan pilihan yang tepat dengan cara yang tepat pula, sesuai dengan hati nurani kita yang berniat untuk membalikkan keterpurukan bangsa ini? Ataukah kita harus menyerah pada realita kekinian yang penuh manipulasi dan ketidak jujuran dan membiarkan bangsa ini menderita? Pilihan ada pada diri saudara!

“Kebutuhan terbesar dunia ini adalah: kebutuhan akan manusia yang tidak dapat diperjual-belikan, manusia yang dalam sanubarinya setia dan jujur, manusia yang tidak segan menyebut dosa itu dosa, manusia yang angan-angan hatinya setia kepada tugas seperti jarum menunjuk ke kutub dan manusia yang mau berdiri demi kebenaran walau langit runtuh sekalipun.” –ED. 41